News Update :
Home » » Meninggalkan Substansi, Agama Bisa Jadi Penyakit

Meninggalkan Substansi, Agama Bisa Jadi Penyakit

Saturday, November 24, 2012 8:31 PM

Agama ketika mati, ia terlahir kembali. Nyawanya semiliar. Sebab, ia diwariskan, diajarkan dan dihidupi serta menghidupi manusia. Ia bagai angin yang bisa bergerak, dan virusnya selalu menyerang manusia di mana saja dan kapan saja. Ia juga seperti tumbuhan, dapat mati kapan saja dan di mana saja. Manusia berutang budi pada keberadaannya. Sebab, ia disimpan seperti azimat yang kapan-kapan dikeluarkan untuk perdebatan serta dijadikan obor saat perasaan kegelapan menjelang. Bahkan ia dilaknat juga dipikat. Karena itu, agama memang fenomena yang luar biasa.

Akibatnya, setiap orang beragama sering mengalami “candu metafisik.” Merasa bahwa apa yang dilakukan adalah karena “metafisika.” Padahal, metafisik yang romantik dapat mengakibatkan kebiasaan berfantasi yang akan menjadikannya mengalami “ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan nyata.” Sebab, zaman dan kehidupan di luar berlari lebih cepat dari hidupnya. Akibatnya, ia terasing dari kehidupan dan kontestasi perjalanan.

Penyakit?

Hampir seluruh rakyat Indonesia beragama, baik Islam, Kristen, dan sebagainya. Namun, mereka mencintai agama tapi lupa substansinya. Singkatnya, mereka beragama hanya memandang substansi, melaikan melihat bungkusnya saja. Kadang, mereka beragama namun seperti orang komunis.

Padahal, ada dan keberadaan agama sangat tergantung dengan pemeluknya. Ia bagai penyakit yang ditularkan lewat ritus dan upacara. Serta bagaikan virus yang ditularkan secara cuma-cuma. Sewaktu-waktu ia datang tak diundang, dan pergi tanpa pamit. Ia sering mencerahkan, tapi sering juga menyesatkan pemeluknya. Jadi, agama merupakan jalan yang tak selesai. Peta sekaligus kunci yang “hanya membuka, tanpa menutup.” Di zaman dan hari yang terbuka, kitalah yang harusnya menentukan “agama macam apa” yang harus dipraktekkan, agama macam apa yang harus diajarkan dan diwariskan.

Seiring berjalannya roda kehidupan, agama semakin menjangkiti pemeluknya. Betapa tidak, agama hanya dimaknai sempit dan dangkal, gencarnya agama hanyalah lewat simbolisasi dan iklanisasi ilahi. Diakui atau tidak, kita lebih suka simbol agama daripada substansi agama. Lalu, yang terjadi adalah “menuhankan dirinya dengan membonceng bulan-bulan keagamaan.” Tentu hal ini bukan kesalahan besar, tapi merupakan konsekuensi dari abad informasi yang menghasilkan agama baru berupa media.

Memang benar, agama dengan banyak pendekatannya akan melahirkan banyak dimensi dan tafsir. Maka, di dalam hati orang beragama pasti akan hadir klaim kebenaran yang tak bisa diganggu gugat. Pertama, setiap agama mengaku bertuhan dan berasal dariNya. Kedua, mempunyai rasul dan kitab suci. Ketiga, menjadi umat pilihan Tuhan. Keempat, jaya di dunia dan selamat di akhirat. Semua klaim kebenaran ini akan menggiring penganutnya untuk selalu mengklaim kebenaran sepihak, dan mengatakan yang lain salah.

Lalu, Apa Substansi Agama itu?

Sesungguhnya, sejak lahir semua agama membawa pesan mirip seperti; ketuhanan (tauhid), kemanusiaan dan lingkungan. Dengan demikian, substansi agama sesungguhnya adalah bertuhan, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan persatuan. Jika agama dan pemeluknya tak bisa mengusung misi itu, maka agama itu akan menjadi penyakit bagi pemeluknya. Munculnya agama dalam agama yang sering bertengkar, adu ideologi, bahkan adu fisik, hal itu merupakan bukti bahwa agama telah membelenggu mereka.

Sebagai bukti, mari kita lihat pendapat Alquran tentang orang yang mendustakan agama. Pada surat Alma’un/107: 1-7 mereka yang disebut pendusta agama bukanlah yang mengingkari Tuhan semata melainkan orang yang; 1) Menghardik anak yatim, 2) Tidak memberi makan orang miskin, 3) Bersikap sombong, 4) Tidak mau berzakat. Tentu saja kajian dan sikap tauhid itu penting. Tetapi tauhid yang hanya menghasilkan kesalihan ritual [vertikal] tanpa kesalehan sosial [horisontal] hanya akan membuat agama cacat secara konsepsi.

Jika ini dibiarkan, kita akan mendapatkan “prestasi buruk dalam beragama” yang berdampak pada prestasi buruk dalam berbangsa. Hari ini kita sedang menyaksikan prestasi-prestasi buruk dalam keagamaan, kenegaraan dan kebangsaan yang menghasilkan delapan dosa sosial: 1) agama tanpa subtansi [iklan], 2) kekayaan tanpa kerja keras [korupsi], 3) perdagangan tanpa moralitas [kolusi], 4) kekuasaan tanpa nurani [nepotisme], 5) pendidikan tanpa karakter [instan], 6) tekhnologi tanpa humanitas [dehumanisasi], 7) peribadatan tanpa pengorbanan [ritual], 8) perjuangan tanpa pemihakan pada si miskin [kemubadziran].

Saatnya kita kaum beragama bergerak lebih cepat bukan sekadar menjalankan ritual, bukan sekadar jadi pengikut Nabi, tapi  harus mempraktekkan pesan dasarnya di lapangan. Mari jadi penerjemah “iman” dan pelaksana “agama subtansi.” Sebab, Indonesia lebih membutuhkan perealisasian subtansi iman dari sekedar iklanisasi agama.

Peresensi: Hamidulloh Ibda, Direktur HI Study Centre dan Ketua Umum Lingkar Study Mahasiswa (LISUMA) PATI

Sumber : Okezone

YOU MIGHT ALSO LIKE

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih Atas Kunjungan Anda

 

© Copyright Strategi Membangun Media Online 2010 -2011 | Design by Zack Tajir | Published by Media Tajir | Powered by Blogger.com.